Mens Sana In Corpore Sano

0 komentar
Masih ingat dengan pepatah romawi, Men sana in corpore sano? Pastinya kita masih ingat. Di Sekolah Dasar dulu dalam mata pelajaran Penjaskes pepatah ini sering keluar dalam soal-soal ulangan. Pepatah ini berarti dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

Namun, benarkah pepatah ini masih relevan pada saat ini? Terlebih kalau kita kaitkan dengan dunia olahraga atau mereka yang sering melakukan olahraga. Sejatinya bila merujuk pepatah ini, mereka yang gemar berolahraga pastinya selaih memiliki tubuh yang kuat dan sehat juga memiliki sikap jiwa dan mental yang sehat pula.



Sayangnya, dalam pengamatan dan dunia nyata, pepatah ini sudah sangat tidak relevan. Banyak orang yang berolahraga, karenanya ia berbadan sehat dan kuat tetapi sayangnya memiliki sikap jiwa yang rusak, busuk, amoral dan lainnya.

Betapa tidak dalam dunia olahrga kini hal-hal seperti doping, pemalsuan umur, suap-menyuap dan segala sifat buruk lainnya sudah sangat susah dipisahkan. Sifat-sifat itu sudah melebur hingga bisa dibilang hal yang biasa dan lumrah. Di dalam negeri saja, kericuhan antar pemain sepakbola, yang seharusnya mereka bisa menerima apapun hasil yang didapat, telah menjadi hal lumrah yang kadang dicari oleh penonton itu sendiri. Wasit sudah tidak mendapat tempat sebagai sang pengadil. Mereka dilecehkan. Sebaliknya terkadang wasit juga menjadi satu bagian dari konspirasi pertandingan. Bukti bahwa insan-insan olahraga telah kehilangan jiwa yang sehat.

Yang parah adalah ketika sarana-sarana olahraga dijadikan tempat oleh para pejabat, politisi maupun mereka yang memegang kekuasaan sebagai tempat meloby dan menciptakan kebijakan-kebijakan aneh. Sudah tidak asing kalau para pejabat bermain tenis dan golf, maka besoknya ada kebijakan-kebijakan aneh.

Sportivitas kini telah hilang berganti dengan teror, intrik dan segala macam taktik curang lainnya. Hasil sudah menjadi tujuan semata tanpa mau melihat prosesnya. Etika fair play telah memudar dan hilang. Inilah efek dimana sang pemenang akan dipuja sedang mereka yang kalah (walau telah berusaha) selalu dianggap sebagai pecundang.

Inilah dunia era modern dimana kesuksesan dan kemenangan telah menjadi berhala baru. Padahal agama manapun menolak kemenangan sebagai berhala. Disaat inilah apa yang pernah dikatakan Pieree de Coubertin, tokoh dalam Olimpiade 1896, “Yang paling penting dalam Olympiade bukanlah untuk menang. Melainkan untuk mengambil bagian” patut untuk kembali direnungkan.

Read More......

Kalau Mandeg Nulis ya, Jangan Dipaksakan

0 komentar
Seseorang pasti pernah mengalami titik jenuh ketika menjalani aktivitas yang dilakukannya. Tak terkecuali aktivitas itu yang paling sangat disukai dan digemarinya. Begitu juga dalam aktivitas menulis. Kita pasti akan merasakan sebuah titik dimana ada rasa jenuh atau ketika berada dalam kemandegan produktivitas menulis. Rasa ini tidak salah juga tidak berhak disalahkan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Salah dalam penyikapan maka akan salah juga dalam langkah selanjutnya. Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan saat aktivitas menulis kita mandeg di tengah jalan.


Pertama, Alihkan sejenak aktivitas menulis kita ke dalam aktivitas membaca, silakan membaca buku-buku atau majalah, Koran dan yang lainnya, ada baiknya apa yang kita baca juga satu tema dengan apa yang sedang kita tulis hingga kita bisa menambah daftar referensi baru yang dapat digunakan saat gairah menulis kita timbul lagi.

Kedua, refreshing keluar. Gak harus keluar kota apalagi sampe harus ke luar negeri. Cukup keluar rumah aja, silaturahmi dengan tetangga atau teman-teman sekitar. Bagus juga apabila kita bisa mengunjungi tempat-tempat favorit yang bisa menimbulkan inspirasi baru bagi kativita smenulis kita, museum atau tempat-tempat bersejarah lainnya.

Ketiga, bisa juga kesempatan ini dipakai untuk mengkoreksi apa yang sedang atau sudah kita tulis sebelumnya. Membetulkan ketikan dan yang lainnya. Biasanya dalam proses ini secara tidak sadar kita akan terbawa dalam aktivitas tulis-menulis lagi.

Keempat, browsing internet, buka-buka blog atau web kawan-kawan yang biasa menulis atau penulis terkenal sekalipun. Baca tulisan mereka, pelajari gaya tulis mereka lalu bandingkan dengan gaya tulis kita. Dimana kelebihan mereka maka itu bisa kita ambil sebagai pelajaran..

Nah, kira-kira itu beberapa tips yang biasa saya lakukan saat aktivitas tulis menulis mandeg di tengah jalan. Kalo ada yang punya tips lain silakan aja berbagi…. 


Read More......

Tantangan dan Problem dalam Liputan Terorisme

0 komentar
Oleh : FARID GABAN

Jurnalisme adalah tentang etika, standar dan prosedur dalam menemukan kebenaran.

Salah satu tulang punggung jurnalisme adalah verifikasi independen terhadap pernyataan atau klaim sumber berita atas suatu fakta atau dugaan.

Informasi intelijen dan polisi dalam kasus terorisme bisa benar dan bisa pula salah. Tapi, informasi ini sulit, dan hampir mustahil, diverifikasi secara independen oleh wartawan/media.

Pernahkah ada verifikasi independen terhadap klaim di bawah ini?

- Ini kerjaan Jemaah Islamiyah.
- Didalangi oleh Noordin M. Top.
- Dilakukan dengan metode bom bunuh diri.
- Dilakukan dengan motif mendirikan negara Islam.



Saya berani mengatakan: tidak pernah ada. (Saya sendiri tidak pernah bisa melakukannya).

Jika sebuah klaim/pernyataan tidak bisa diverifikasi secara independen, yang
tersisa bagi kita hanyalah PERCAYA atau MERAGUKAN.

Sebagai wartawan, saya akan memutuskan percaya atau ragu berdasar pertimbangan logika,
bukti-bukti tak langsung, konteks, analisis motif dan kredibilitas sumber berita.

Ada banyak alasan untuk meragukan klaim polisi.

Di samping ada banyak kejanggalan dalam klaim itu, keraguan bisa bersumber terutama pada rendahnya kredibilitas polisi dan khususnya Detasemen Anti-Teror.

Mereka adalah sumber atas semua KLAIM tentang terorisme di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya, unit polisi ini terlibat konflik-kepentingan sejak berdirinya. Mereka memperoleh dana besar dan konsultasi polisi/badan rahasia Amerika/Australia untuk kepentingan "war on terror" George Bush.

Ada unsur konflik-kepentingan di tubuh mereka.

Dalam prosedur jurnalistik, ada atau tidaknya konflik-kepentingan merupakan satu kriteria yang paling dipertimbangkan ketika menguji kredibilitas sumber berita.

Makin sering dan makin getol mereka membuat klaim tentang "organisasi hantu", yang tidak bisa diverifikasi secara independen, makin layak kita curiga akan motif mereka sendiri.

Saya akan punya kecurigaan sama seperti ketika mendengar seseorang begitu getol dan sangat bersemangat menuduh temannya membunuh, tapi bukti-bukti yang diajukannya sumir, hanya dia yang tahu, tidak bisa diverifikasi secara independen oleh orang lain.

Makin lantang dia bicara, makin curiga saya akan motif yang disembunyikan.

Read More......

Dunia mistik yang kita suka ......

0 komentar
Pasca aksi bom di mega kuningan yang begitu menghentak dan mengagetkan serta mengingatkan kita bahwa ancaman teror masih ada disekitar kita di masyrakat timbul berbagai persepsi dan duga-menduga mengapa teror ini kembali terjadi di negeri kita. Dari mulai siapa yang melakukan aksi ini, apa motifnya dan sebagai macamnya. Ada yang mengitkan ini dengan isu sara, ketidakpuasan akan hasil pilpres sampai-sampai ada yang mengaitkan ini dengan hal-hal yang berbau ghaib dan mistik.



(Nah hal terakhir ini yang menarik. Banyak masyarakat yang mengaitkan ini dengan mistik karena Presiden SBY tidak direstui alam. Ini diperkuat lagi dengan ramalan-ramalan orang-orang yang selama ini telah menempel di hati masyarakat. Memang isu presiden dengan isu marahnya alam pernah marak pada periode sebelumnya yaitu 2004.

Yah, dunia mistik dan ghaib memang sangat kuat di hati kita. Banyak hal dan peristiwa yang terlalu gampang kita percayai dan kita nikmati sebagai hal-hal yang mistik. Maka itu tidak heran film-film dengan tema-tema mistik dan ketidakjelasan asal-usulnya sangat laku dan digemari masyarakat kita.

Entah apakah kita memang terlalu takut dengan kejelasan dan kebenaran atau karena kita memang ogah memikirkan fakta karena terlalu malas untuk memeras otak dan mengeluarkannya sebagai sebuah logika. Sehingga kata-kata paranormal menjadi begitu saja kita percaya sebagai landasan kebenaran. Kalo begini kenyataannya maka rasionalitas bisa disebut sebagai sesuatu yang mahal bagi masyarakat Indonesia.

Fakta banyaknya iklan-iklan paranormal dari yang mulai menebak makna nama, jodoh, kerjaan hingga apa misteri dibalik tanggal lahir kita membuktikan bahwa dunia ini sangat dekat dengan kita. Tidak hanya orang kecil yang bermain-main dengan dunia ini, orang-orang besar pun juga melakukannya walau dibungkus dengan kata-kata guru spiritual.

Bahkan pada masa kampanye yang lalu, banyak caleg yang seharusnya orang berpendidikan dan berpikir maju terlalu mudah mempercayakan masa depannya kepada praktek perdukunan. Bahkan yang sudah menjabat juga tidak ketinggalan saking takutnya kehilangan kuasa mereka asyik-asyik mendekat bahkan cenderung akrab dengan sang dukun.

Memang, terlalu banyak hal dan peristiwa yang belum terpecahkan di sekeliling kita, tapi terlalu naïf dan sayang sekali apabila kita begitu pasrah mempercayakannya pada paranormal tersebut. Bukankah kita dikasih kelebihan oleh sang pencipta berupa akal yang dengannya harus digunakan secara baik dan maksimal bukan hanya untuk didiamkan saja hingga tidka berguna yang menyebabkan kita tidak menjadi manusia yang bersyukur….


Read More......

Ngomongin Oposisi

0 komentar
pasca pilpres 2009 yang sepertinya kemenangan sudah bisa dipastikan kepada kandidat SBY - Boediono media-meda tidak begitu saja kehabisan berita untuk dijual. Setidaknya ada dua wacana yang sekarang sedang marak yaitu urusan bagi-bagi kursi kabinet, yang konon katanya tiap partai pendukung sudah menyetorkan nama dalam amplop tertutup, dan siapa yang akan 'bertugas' menjadi oposisi.



nah, ngomongin oposisi memang bukan sesuatu yang mudah di negeri ini. oposisi dalam praktik politik Indonesia ibarat barang langka yang saking langkanya udah susah didapatkan gak tahu juga kalo di jalan surabaya sana. karena memang setelah orde baru berkuasa yang namanya oposisi udah gak laku dan kagak dibiarkan hidup dalam ranah politik yang berbeda walaupun hanya sekedar ide akan menjadi sasaran tembak, beruntung kalo hanya ditangkap kalo hilang tanpa arah.

padahal pasca kemerdekaan tokoh-tokoh politik indonesia sudah biasa saling serang dan kritik dalam tataran ide dan wacana. ingat ide dan wacana bukan ranah pribadi. mereka asyik mengkritik satu dan yang lainnya tanpa harus ketakutan kehilangan kemerdekaan pribadi maupun keluarganya. teror-teror sedikit mungkin wajar tapi itu bukan masalah.

sekarang oposisi seperti sesuatu yang dihindarkan. tokoh partai golkar setelah kekalahan kandidatnya langsung berkomentar bahwa parti ini dibangun untuk memiliki peran dalam pemabangunan bangsa. seolah-olah oposisi adalah sampah dan tidak berperan bagi pembangunan bangsa. maka kita sebuat apa Nelson Mandela yang dalam kehidupannya dihabiskan untuk beroposisi lalu Aung san su kyii dai Myanmar yang sampai saat ini harus kehilangan Hak Azazinya karane memperjuangkan sesuatu yang juga bukan untuk dirinya saja.

sekarang tokoh besar lain lagi berkata bahwa beroposisi harus memiliki modal dalam arti rupiah. saya ragu dahulu masyumi yang sering berhadapan dengan partai pemerintah sebagai partai besar dengan modal melimpah.

pemilu 2004 sepertinya kita harus bersyukur bahwa PDI-P berkomitmen untuk beroposisi terhdapa pemerintah. namun sayang bahwa oposisi yang diambil hanya didasari kebencian dan kedengkian yang penting asal beda, tidak ada tawaran solusi yang baik. sampai-sampai sang ketua partai ienggan bertemu dan berjabat tangan dengan SBY. sesuatu yang aneh. padahal menjadi oposisi bukan berarti kita saling membenci apalagi memaki. beroposisi tidak sama dengan memutus tali silaturahim. oposisi adalah tugas mulia ini juga ranah berlomba-lomba meraih kebaikan. ini sebuah tugas bukan pekerjaan 'daripada' atau 'sekedar'....

jadi cukup menark untuk menunggu apakan akan ada yang mengambil jalan beroposisi agar demokrasi ini semakin bermakna dan berwarna....

Read More......

Pengkhianat

0 komentar
Menyaksikan film Down Fall, yang mengisahkan tentang detik-detik kejatuhan rezim Nazi Jerman saya cukup terharu. Bukan terharu pada kekejaman Hitler terhadap kaum Yahudi. Sebab, walau ada alasan untuk membenci kaum itu, tetap saja apa yang dilakukan oleh Hitler kita tolak.

Walau film ini bersetting perang dunia ke dua. Kita akan sangat sedikit menemukan bunyi dentuman meriam dan pertempuran tentara di medan perang. Walau tetap ada tetapi itu ditaruh oleh sang sutradara hanya sebagai bumbu pemanis dari film tersebut. Sebab, fim ini memang hanya menggambarkan bagaimana emosi Hitler dan sikap pimpinan pasukan elitenya ditengah gempuran sekutu yang sangat dahsyat.




Film ini menggambarkan bagaimana situasi dilingkungan terdekat Adolf Hitler ditengah-tengah gempuran hebat sekutu. Saat itu sekutu sudah dapat mencapai kota Berlin, yang merupakan pusat atau basis kekuasaan pemerintahan Nazi. Pada saat ini eksistensi Nazi sebagai suatu kekuatan benar-benar dipertaruhkan. Ini adalah saat dimana hanya ada dua pilihan kalah atau menang.
Tetapi disaat inilah para pengkhianat muncul. Setidaknya begitu menurut Hitler. Ditengah usaha Hitler mempertahankan kekuasaan dan nama besarnya. Bermunculan orang-orang yang berpikiran pragmatis, untuk menyerahkan kekuasaan kepada sekutu. Dan yang telaknya pemikiran itu muncul dari orang-orang terdekatnya yang selama ini sangat terkenal loyalitasnya. Baik kepada Nazi maupun kepada Hitler sendiri.
Gambaran seperti inilah yang dengan cerdas diangkat dalam film ini. Penonton benar-benar dipaksa untuk sedikit berempati kepada Adolf Hitler yang terlihat depresi dengan situasi yang ada. Ia benar-benar merasa dikhianati oleh mereka yang selama ini ia anggap loyal kepadanya. Disaat ia berusaha untuk bertarung sampai titik penghabisan, bahkan ia menolak opsi keluar dari Berlin. Orang-orang terdekatnya malah bernegoisasi dengan sekutu dan sepakat untuk mengakui kekalahan Nazi, bahkan secara tidak langsung mereka seperti menyerahkan nywa Hitler kepada sekutu.
Maaf, menulis ini bukannya saya berempati dan mendukung apa yang dilakukan oleh Nazi. Sebab, sebagai orang beragama kita tetap harus menolak apa yang telah dilakukan oleh Nazi terhadap komunitas Yahudi. Walau disatu sisi kita juga tidak suka apa yang dilakukan oleh komunitas Yahudi dengan bangsa Palestina dan Islam secara keseluruhan.
Tetapi saya hanya ingin menggambarkan bagaimana pedihnya suatu pengkhianatan. terlebih pengkhianatan itu datangnya dari mereka-mereka yang selama ini telah menjadi kepercayaan dan teman berjuang kita. Episode ini juga kembali mengingatkan saya pada kisah nabi Musa as dan Bani Israel. Betapa sayang dan cintanya nabi Musa kepada kaum ini. Hingga ia rela mengorbankan nyawanya sekalipun. Tetapi apa yang ia dapat setelah menyelamatkan bani Israel dari kekejaman Fir’aun? Apakah kaum ini mau beriman kepada Allah swt? Ternyata tidak. Mereka melakukan pengkhianatan, tidak hanya terhadap Musa as tetapi juga terhadap Allah swt.

“Dan kami selamatkan Bani Israil menyeberangi laut itu (Bagian utara dari laut merah). Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap penyembah berhala, mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (Berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)” Musa menjawab, “Sungguh kamu orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’Raaf: 138)

Bodoh, itulah sesungguhnya sifat para pengkianat. Mereka merasa pintar dan pandai. Tetapi sejatinya mereka adalah orang-orang yang bodoh. Karena mereka tidak mau mensyukuri apa yang telah didapatkan. Lihat bagaimana bani Israil baru saja diselamatkan dari kesusahan dan kesedihan. Bukannya bersyukur mereka malah meminta untuk dibuatkan berhala sebagai tandingan Allah swt.
Hal ini semakin terlihat tatkala mereka dijanjikan sebuah tanah yang dijanjikan. Ketika mereka disuruh untuk memasukinya dengan enteng dan gampangnya mereka berkata,

Mereka berkata, “Wahai Musa! Sampai kapanpun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada didalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) disini saja” (QS. Al-Ma’idah: 24)

Episode pengkhianatan tidak berhenti sampai disana. Dimasa Rasulullah saw kita mengenal tokoh yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia merupakan tokoh dan figure pengkhianat dalam barisan muslim pasca hijrah ke Madinah. Ia tidak suka dengan kedatangan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Abdullah bin Ubay yang sebelumnya diproyeksikan sebagai pemimpin Madinah harus rela tergantikan oleh Rasulullah saw. yang bila kita mau jujut jelas gak ada tandinggannya dengan Abdullah bin Ubay.

Walau dimulut ia menerima kepemimpinan Rasulullah saw. tetapi di hati ia sangat membencinya. Maka mulailah dirancang langkah-langkah pengkhianatan. Ia melakukan pembelotan terhadap pasukan yang akan berangkat ke perang Uhud yang dengannya ia berharap pasukan muslim kalah dan Rasulullah saw terbunuh maka ia akan langsung menjadi pemimpin di Madinah.

Tetapi betapa kecewanya ia ketika melihat Rasulullah saw. kembali dengan selamat. Walau memang pasukan muslim kalah. Tetapi kekalahan itu bukannya diakibatkan pasukan muslim kalah dalam jumlah personel. Namun, kekalahan itu lebih disebabkan tidak patuhnya pasukan muslim terhadap strategi yang ditetapkan oleh Rasulullah saw.
Selain itu ia juga berkomplot dengan kaum Quraysi dan kaum Yahudi untuk menghabisi Rasulullah saw. ia juga membocorkan strategi kaum muslim kepada musuh-musuhnya. Tetapi sayang sekali lagi rencana-rencana itu tidak berhasil. Malah Abdullah bin Ubay harus meregang di tangan putranya sendiri.

Berhati-hatilah terhadap para pengkhianat. Karena ia tidak terlihat dan bisa jadi ia orang terdekat kita. Layaknya Gamal Abdul Nasser. Ia yang merupakan salah satu kader inti Ikhwanul Muslimin. Tetapi, dia pula yang berusaha menghancurkan gerakan Islam tersebut dari sejarah kebangkitan Islam. Bahkan, ia rela dan tega untuk mengirimkan Sayyid Quthb ke tiang gantungan. Orang yang selama revolusi merupakan sahabat dekatnya

ya, episode para pengkhaianat selalu muncul dalam setiap zaman, namun yang menambah parah adalah ketika para pengkhianat itu memiliki pembenaran sendiri terhadap yang dilakukannya. setelah caesar tewas brutsu dengan lantang berkata,

"Jika ditengah-tengah ini ada saudara, kerabat dan teman caesar maka kepada kalian aku ingin mengatakan bahwa cintaku lebih besar dan tidak kurang dari cintanya. lalu kalau kalian menanyakan kenapa akau membunuh caesar maka akau menjawab, 'bukan karena tak cinta pada caesar, tapi karena cinta pada roma. apa kalian lebih suka caesar hidup sedangkan semua kalian mati sebagai budak, atau caesar mati hingga semua dapat hdup merdeka? aku membunuhnya karena dia gila kekuasaan. ada air mata untuk cintanya,kegembiraan untuk nasib baiknya, dan kematian untuk kegilaannya pada kekuasaan."

itulah kalimat brutus yang diucapkan setelah ia membunuh caesar, orang yang selama ini sangat disayanginya....


Read More......
 
Copyright 2009 asal tulis
BloggerTheme by BloggerThemes | Design by 9thsphere